Keluar dari Radar Banyumas; A Step to Move to the Next Quadrant December 13, 2007
Posted by qnewt in Pekerjaan, Pemikiran, Rencana.trackback
Rencananya per Januari 2007 nanti saya tidak lagi bergabung dengan Departemen Pemasaran Harian Umum Radar Banyumas. Bukan karena kontrak saya habis, walau sebenarnya habis. Dikatakan habis karena sebenarnya kontrak yang saya tandatangani berlaku untuk jangka waktu 3 bulan. Sekarang, sudah sekitar 1,5 tahun saya bekerja setelah saya menandatangani kontra kerja. Setelah itu tidak ada pembaharuan kontrak.
Bukan juga karena saya di-PHK. Sepanjang saya begabung di Radar Banyumas, seingat saya belum pernah jajaran manajemen mem-PHK karyawannya. Sebaliknya justru banyak karyawan, tertama wartawan yang keluar dari Radar Banyumas. Hal ini banyak dilakukan oleh orang-orang yang sudah lama bergabung dan dan merasa kemampuan mereka sudah jauh melesat sehingga menginginkan tempat kerja yang lebih ‘bagus’. Bisa dikatakan memang Radar Banyumas ini sebagai tempat pelatihan bagi wartawan. Setelah mereka mahir, mereka akan pindah ke media lain.
Tidak juga saya mendapatkan SP3, yang berujung pemecatan. Sepanjang saya bergabung di Radar Banyumas, saya tidak pernah mendapatkan Surat Peringatan (SP). Saya bisa dikatakan karyawan yang patuh. Tapi bukan berarti saya hanya manut apa yang dikatakan pimpinan. Banyak hal yang sebenarnya saya tidak cocok dengan pimpinan saya (manajer pemasaran-red) tentang pengembangan pemasaran. Tapi saya tidak berhenti sampai di situ, saya terus melakukan upaya pengembangan semampu dan sekuat tenaga sepanjang tidak bersebrangan dengan kebijakan manejemen.
Terakhir ini saya sebenarnya justru sedang memberdayakan teman-teman saya untuk ikut mengembangkan pemasaran Radar Banyumas. Saya dan empat temen saya (Trapast Bagus Aprilla, Saras Sandi, Tangkas Pamuji dan Nurul Fauzi) sedang menjalankan program Radar Banyumas Goes to School. Dan saya mengklaim diri sebagai Project Officer.
Menyelenggarakan Lomba Mewarnai di SD/TK yang rencananya akan dilaksanakan di seluruh SD/TK di Barlingmascakeb. Ini tentu saja akan meningkatkan oplah koran, karena pada nantinya setiap peserta lomba akan mendapatkan koran masing-masing satu eksemplar dari uang pendaftaran yang sebesar 2.500 rupiah.
Dengan teman-teman di pemasaran ataupun karyawan lain, saya juga tidak punya masalah. Hanya terjadi masalah kecil, sebatas kesalahpahaman (missunderstanding) atau misscommunication. Tapi hal ini tidak mengganggu dalam bekerja.
Tidak bergabungnya saya di Divisi Pemasaran Radar Banyumas Ini adalah tahap dari rencana besar hidup saya. Sebentar lagi, dalam hitungan bulan, saya akan mengakhiri masa lajang saya. Menikah. Keputusan yang tidak main-main tentu saja. Tapi ini adalah hal yang sudah sepatutnya dilakukan.
Masa penjajakan saya dengan Marsitol (bukan nama sebenarnya), nama aslinya Upik Warnidai Laili, Pemimpin Redaksi Harian Umum Radar Banyumas. Pertama tentu saja karena saya mencintainya. Alasan apa lagi yang lebih mantap selain karena cinta. Kedua, menghindari fitnah. Upik beberapa kali sudah berkunjung ke tempat saya, Majenang-Cilacap. Sering juga berkunjung ke rumah singgah saya di Karangnanas, tempat paman saya. Hal ini tentu akan menimbulkan reaksi yang beragam dari masyarakat. Ketiga, saya kira sudah saatnya. Usia saya 21 Desember 2007 nanti menginjak 25. Usia yang tidak bisa lagi dibilang belia. Walau saya terlihat imut memang. Atau kelakuan kadang masih seperti anak kecil, tapi dengan menikah pula diharapkan nantinya akan lebih dewasa. Tunggu apalagi untuk menjadi dewasa. Bukankan dewasa itu pilihan sedangkan tua itu pasti! (paling tidak itu kata iklan sampoerna a mild)
Selain itu, rencana saya adalah mempunyai usaha sendiri. Tidak menjadi karyawan, mengabdikan diri, mencurahkan tenaga dan pikiran untuk memperkaya orang lain, seperti sekarang.
Saya tidak menghilangkan apa yang saya dapat dengan bekerja di Radar Banyumas. Secara ekonomi, kondisi saya lebih baik dibandingkan waktu saya kuliah. –Saya sudah bekerja di Radar Banyumas semanjak saya masih kuliah.– Bahkan sebenarnya ada uang lebih yang saya dapatkan walau pada dasarnya gaji saya hanya pas-pasan. Saya sekarang punya motor sendiri. Tidak lagi pinjam punya orang tua. Walau sekarang dengan punya motor saya agak sedikit terbebani. Mungkin karena sisa gaji saya setelah untuk mengangsur pembayaran motor pas-pasan saja. Bahkan dirasa kurang.
Gaya hidup saya juga seikit berubah. Saya jadi mengenal fitness. Walau sekarang akhirnya mandeg juga karena kekurangan dana. Selain itu tubuh saya gemukan. Dan yang lebih berarti dalam hidup saya, saya punya sedikit kesadaran untuk menyisihkan uang saya untuk orang yang membutuhkan bantuan.
Alasan lain kenapa saya harus setahap-demi setahap keluar dari zona nyaman ini adalah karena saya merasa saya sudah tidak lagi berkembang. Saya hanya jalan di tempat. Dengan mengerjakan pekerjaan rutin, otak saya terpola. Hanya sekitar 1/4 dari otak saya yang dipergunakan untuk hal-hal yang menunjang perkembangan kemampuan saya. Selebihnya digunakan untuk mengerjakan apa yang telah menjadi rutinitas. Tentu saja ini sangat berbahaya bagi perkembangan otak dan juga hidup saya. Dan ini saya jalani selama 2 tahun.
Keputusan keluar tentu saja keputusan yang tidak mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Paling realistis adalah beban Jupegue (Jupiter MX 135 LC Standar Warna Biru). Setidaknya setiap bulan aku harus punya uang tetap sebesar 410.000. Dan jika pada 4 Januari nanti bayar cicilan, berarti masih 22 kali lagi cicilannya.
Untuk mewujudkan rencana besar saya tentu harus dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal saya akan masih menyandang Radar Banyumas di belakang nama saya. Renananya saya akan bergabung ke bagian account executive (AE). Menurut saya ini adalah tahapan yang paling rasional. Dengan masih menyandang nama besar itu, saya punya suntikan kekuatan.
Paling tidak diawal masa transisi saya saya sudah punya rencana yang bisa menopang hidup saya. Pertama, saya masih bisa bersama teman-teman saya melanjutkan program Radar Banyumas Goes to School. Pendapatan dari kegiatan ini bisa dikatakan lumayan. Kalau 1 hari menyelenggarakan kegiatan berarati dalam satu bulan sediktinya ada 26 kali penyelenggaraan atau pahitnya 20 kali. Jika setiap penyelenggaraan saya mendapatkan 40.000 berarti saya akan mengantongi uang sebesar 800.000.
Kedua, jika nanti saya diperbolehkan bergabung di bagian Account Executive (AE) tentu saja dari ini saya akan mendapatkan uang tambahan walau tidak bisa diprediksi jumlahnya. Kareana persaingan juga ketat. Teman-teman yang sudah bergulat di bidang ini ada sekitar 6 orang. Deni Arifianto, Imam Suryaningrat, Aang M. Junaidi, Firdaus Hasibuan, Susi Trisnawati dan Yuni. Mereka semuanya beroperasi di Banyumas lebih khususnya di Purwokerto.
Ketiga, saya sedikit-sedikit akan mengamplikasikan kemampuan ‘organizing’ dengan mengadakan event kecil (terlebih dahulu). Ini tahap kecil merealisasikan ‘Big Star Production’. Keempat saya juga akan sedikit-seikit mewujudkan mimpi saya mempunyai Biro Perjalanan Wisata, kali ini akan menggunakan nama Junior dan akan menggarap perjalanan ‘kecil’ ke Owabong (Obyek Wisata Air Bojongsari) Purbalingga, yang segmentasinya anak-anak TK/SD.
Mulailah dari hal-hal kecil, begitu artikel yang saya baca dari yang punya Manet. Dan tentu saja “There is always the first time in everything we do.” Begitu kan Mariana Renata.
Sukses untuk saya!



usul mas. paling tidak kan kamu mesti punya 410.000 tuh untuk jupegue-nya. uang ga sedikit lho. salah satu sumber duitnya mungkin kamu bisa ngajuin duit ke mas doddu, manajer pemasaran untuk mengelola keagenan signal. ya bisa dapet berapa lah dari situ. kan lumayan. kamu cuman ngelola doang.
mas diedit lagi deh. kayaknya ga kompak penggunaan departemen dan divisi. pilih salah satu.
satu kali lagi ya mas! katanya kalau satu kali lagi namanya hetrik.
terima kasih sudah mencintaiku. iya, aku kebelet nikah sama kamu. aku percaya, biar pun kita berdua akan memulai hidup sebagai sepasang bocah kere, tapi pada saatnya kita bisa membangun segala sesuatunya dengan lebih baik. luv ya.
Wah ini merupakan terobosan yang boleh dikatakan amat sangat ruaarrrrrrr biasa. Karena de Caskim mau mengawali hidup yang semakin rumit aja. Pesen saya, De Caskim harus mampu menjaga emosi yng berlebihan karena nanti De Caskim akan hidup dengan anak orang lain untuk menjadi pendamping hidup untuk seumur hidupnya.Amin.Buang jauh-jauh kebiasaan pas masih kuliah dan blm menikah, seperti main2 yang ga perlu karena De Upik akan selalu menunggu kehadiran De Caskim di rumah.Amat sangat baik kalo lagi ga ada kerjaan, pulanglah ke rumah. Karena RUMAHKU adalah SURGAKU. PAHAM……