jump to navigation

Mencari Alternatif Pekerjaan January 25, 2008

Posted by qnewt in Pekerjaan, Rencana.
add a comment

Berbagai persiapan menjelang pernikahan terus saya lakukan. Salah satunya adalah mempersiapkan alternatif pekerjaan setelah menikah nanti. Kami, sepasang muda-mudi yang sama-sama bekerja di satu instansi, Radar Banyumas, tentu mengalami kendalan yang cukup berarti.

Ada peraturan yang tidak tertulis (setahu saya), yang menyatakan sepasang suami istri tidak diperbolehkan bekerja di istansi yang sama. Peraturan ini juga tidak terkecuali diterapkan di Radar Banyumas. Dan dalam kasus ini, tentu sayalah yang paling mungkin,  yang harus mengundurkan diri.

Pendapatan saya, jika nanti tetap bertahan di sini, cukup kecil dibandingkan dengan pasangan saya (tidak ada sepertiganya!). Hal ini tidak bagus bagi seorang suami yang seharusnya bisa menghidupi keluarga. Jikapun saya bertahan untuk mendapatkan posisi sebanding dengan pasangan saya, emmm mungkin ga ya? Menutut saya sangat mungkin, tapi 10 atau 15 tahun kemudian.

Adakah jaminan setelah keluar saya akan mendapatkan penghasilan lebih besar dari pasangan saya? Tidak ada jaminan sebenarnya, saya hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik nantinya untuk keberlangsungan rumah tangga kami. Saya tidak menjadi pecundang yang hanya mengandalkan gaji istri saya. Oleh karena itulah sedini mungkin saya harus mencari alternatif pekerjaan.

Selasa, 22 Januari kamaren saya sowan ke kediamannya Dian Lifaniati  (Fani). Kedatangan saya sore itu tidak lain untuk melakukan lobiying agar saya dapat  menjadi bagian dari Account Excutive yang dia manageri.

Sebelumnya saya sudah melakukan perundingan dengan Susi Trisnawati. Seorang AE yang rencananya akan resign per Februari 2008 nanti. Secara prinsip, Susi tidak masalah jika saya nantinya yang akan menggantikan posisinya dan ‘menggarap’ klinennya. Kesepakatan lebih lanjut akan kami bicarakan kemudian ketika Susi pulang ke Purwokerto.

Hal ini saya sampaikan kepada manager iklan. Manager tidak  mempermasalahkan saya untuk menjadi anak buahnya. Dia juga secara prinsip OK jika saya akan menangani klien iklannya Susi. “Asal iklan tambah maju,” begitu komentarnya.

Sampai di sini, sukses. Malam itu juga saya sowan ke Direktur Utama Harian Umum Radar Banyumas, Sudirwan. Tujuan yang saya usung, tidak jauh beda dengan sebelumnya. Hanya dengan beliau saya menambahkan satu lagi agenda, meminta doa restu, atas rencanya pernihakan kami.

Senada dengan manager iklan, beliau juga secara rinsip merestui rencana saya. Tentu saya beliau juga memberikan doa restu untuk hugungan kami.

Kenapa saya tetap memilih punya ikatan dengan Radar Banyumas? Menurut saya itu yang paling mungkin saya lakukan dalam waktu dekat ini. Sebelum tentu saja saya mewujudkan semua impian saya untuk mempunyai usaha sendiri.

AE sebenarnya tidak punya ikatan kantor dengan Radar Banyumas. Mereka tidak digaji oleh Radar Banyumas, tetapi penghasilannya mereka dapatkan dari komisi iklan. Hal inilah yang memungkinkan saya tetep dalam lingkungan Radar Banyumas.

Per Februari nanti, para AE tidak lagi ngator di Jl.Soepardjo Roestam 88 Sokaraj Kulon, Kantor Radar Banyumas. Mereka punya kantor sendiri di Jl. Perintis Kemerdekaan, di Hotel Sulatana.  Ini mungkin kebijakan Jawa Pos Grup. AE independen secara infrasturktur. Mereka tetap menggunakan nama resmi Biro Iklan Radar Banyumas dan ini bersifat eksklusif. Mereka yang resmi menjadi Biro Iklan Radar Banyumas tidak diperbolehkan untuk ‘bekerja’ kepada media lain.

Selain itu, sepanjang saya bekerja saya juga sudah ‘bermain’ di bagian periklanan. Hingga saya tidak perlu beradaptasi terlalu lama untuk bisas bekerja sebagai AE. Sekarang tinggal memberitahu secara resmi kepada Pimpinan Perusahaan dan Manajer Pemasaran.

Sepertinya semakin mantaf saja untuk melepas masa lajang!

Keluar dari Radar Banyumas; A Step to Move to the Next Quadrant December 13, 2007

Posted by qnewt in Pekerjaan, Pemikiran, Rencana.
5 comments

Rencananya per Januari 2007 nanti saya tidak lagi bergabung dengan Departemen Pemasaran Harian Umum Radar Banyumas. Bukan karena kontrak saya habis, walau sebenarnya habis. Dikatakan habis karena sebenarnya kontrak yang saya tandatangani berlaku untuk jangka waktu 3 bulan. Sekarang, sudah sekitar 1,5 tahun saya bekerja setelah saya menandatangani kontra kerja. Setelah itu tidak ada pembaharuan kontrak.

Bukan juga karena saya di-PHK. Sepanjang saya begabung di Radar Banyumas, seingat saya belum pernah jajaran manajemen mem-PHK karyawannya. Sebaliknya justru banyak karyawan, tertama wartawan yang keluar dari Radar Banyumas. Hal ini banyak dilakukan oleh orang-orang yang sudah lama bergabung dan dan merasa kemampuan mereka sudah jauh melesat sehingga menginginkan tempat kerja yang lebih ‘bagus’. Bisa dikatakan memang Radar Banyumas ini sebagai tempat pelatihan bagi wartawan. Setelah mereka mahir, mereka akan pindah ke media lain.

Tidak juga saya mendapatkan SP3, yang berujung pemecatan. Sepanjang saya bergabung di Radar Banyumas, saya tidak pernah mendapatkan Surat Peringatan (SP). Saya bisa dikatakan karyawan yang patuh. Tapi bukan berarti saya hanya manut apa yang dikatakan pimpinan. Banyak hal yang sebenarnya saya tidak cocok dengan pimpinan saya (manajer pemasaran-red) tentang pengembangan pemasaran. Tapi saya tidak berhenti sampai di situ, saya terus melakukan upaya pengembangan semampu dan sekuat tenaga sepanjang tidak bersebrangan dengan kebijakan manejemen.

Terakhir ini saya sebenarnya justru sedang memberdayakan teman-teman saya untuk ikut mengembangkan pemasaran Radar Banyumas. Saya dan empat temen saya (Trapast Bagus Aprilla, Saras Sandi, Tangkas Pamuji dan Nurul Fauzi) sedang menjalankan program Radar Banyumas Goes to School. Dan saya mengklaim diri sebagai Project Officer.

Menyelenggarakan Lomba Mewarnai di SD/TK yang rencananya akan dilaksanakan di seluruh SD/TK di Barlingmascakeb. Ini tentu saja akan meningkatkan oplah koran, karena pada nantinya setiap peserta lomba akan mendapatkan koran masing-masing satu eksemplar dari uang pendaftaran yang sebesar 2.500 rupiah.

Dengan teman-teman di pemasaran ataupun karyawan lain, saya juga tidak punya masalah. Hanya terjadi masalah kecil, sebatas kesalahpahaman (missunderstanding) atau misscommunication. Tapi hal ini tidak mengganggu dalam bekerja.

Tidak bergabungnya saya di Divisi Pemasaran Radar Banyumas Ini adalah tahap dari rencana besar hidup saya. Sebentar lagi, dalam hitungan bulan, saya akan mengakhiri masa lajang saya. Menikah. Keputusan yang tidak main-main tentu saja. Tapi ini adalah hal yang sudah sepatutnya dilakukan.

Masa penjajakan saya dengan Marsitol (bukan nama sebenarnya), nama aslinya Upik Warnidai Laili, Pemimpin Redaksi Harian Umum Radar Banyumas. Pertama tentu saja karena saya mencintainya. Alasan apa lagi yang lebih mantap selain karena cinta. Kedua, menghindari fitnah. Upik beberapa kali sudah berkunjung ke tempat saya, Majenang-Cilacap. Sering juga berkunjung ke rumah singgah saya di Karangnanas, tempat paman saya. Hal ini tentu akan menimbulkan reaksi yang beragam dari masyarakat. Ketiga, saya kira sudah saatnya. Usia saya 21 Desember 2007 nanti menginjak 25. Usia yang tidak bisa lagi dibilang belia. Walau saya terlihat imut memang. Atau kelakuan kadang masih seperti anak kecil, tapi dengan menikah pula diharapkan nantinya akan lebih dewasa. Tunggu apalagi untuk menjadi dewasa. Bukankan dewasa itu pilihan sedangkan tua itu pasti! (paling tidak itu kata iklan sampoerna a mild)

Selain itu, rencana saya adalah mempunyai usaha sendiri. Tidak menjadi karyawan, mengabdikan diri, mencurahkan tenaga dan pikiran untuk memperkaya orang lain, seperti sekarang.

Saya tidak menghilangkan apa yang saya dapat dengan bekerja di Radar Banyumas. Secara ekonomi, kondisi saya lebih baik dibandingkan waktu saya kuliah. –Saya sudah bekerja di Radar Banyumas semanjak saya masih kuliah.– Bahkan sebenarnya ada uang lebih yang saya dapatkan walau pada dasarnya gaji saya hanya pas-pasan. Saya sekarang punya motor sendiri. Tidak lagi pinjam punya orang tua. Walau sekarang dengan punya motor saya agak sedikit terbebani. Mungkin karena sisa gaji saya setelah untuk mengangsur pembayaran motor pas-pasan saja. Bahkan dirasa kurang.

Gaya hidup saya juga seikit berubah. Saya jadi mengenal fitness. Walau sekarang akhirnya mandeg juga karena kekurangan dana. Selain itu tubuh saya gemukan. Dan yang lebih berarti dalam hidup saya, saya punya sedikit kesadaran untuk menyisihkan uang saya untuk orang yang membutuhkan bantuan.

Alasan lain kenapa saya harus setahap-demi setahap keluar dari zona nyaman ini adalah karena saya merasa saya sudah tidak lagi berkembang. Saya hanya jalan di tempat. Dengan mengerjakan pekerjaan rutin, otak saya terpola. Hanya sekitar 1/4 dari otak saya yang dipergunakan untuk hal-hal yang menunjang perkembangan kemampuan saya. Selebihnya digunakan untuk mengerjakan apa yang telah menjadi rutinitas. Tentu saja ini sangat berbahaya bagi perkembangan otak dan juga hidup saya. Dan ini saya jalani selama 2 tahun.

Keputusan keluar tentu saja keputusan yang tidak mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Paling realistis adalah beban Jupegue (Jupiter MX 135 LC Standar Warna Biru). Setidaknya setiap bulan aku harus punya uang tetap sebesar 410.000. Dan jika pada 4 Januari nanti bayar cicilan, berarti masih 22 kali lagi cicilannya.

Untuk mewujudkan rencana besar saya tentu harus dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal saya akan masih menyandang Radar Banyumas di belakang nama saya. Renananya saya akan bergabung ke bagian account executive (AE). Menurut saya ini adalah tahapan yang paling rasional. Dengan masih menyandang nama besar itu, saya punya suntikan kekuatan.

Paling tidak diawal masa transisi saya saya sudah punya rencana yang bisa menopang hidup saya. Pertama, saya masih bisa bersama teman-teman saya melanjutkan program Radar Banyumas Goes to School. Pendapatan dari kegiatan ini bisa dikatakan lumayan. Kalau 1 hari menyelenggarakan kegiatan berarati dalam satu bulan sediktinya ada 26 kali penyelenggaraan atau pahitnya 20 kali. Jika setiap penyelenggaraan saya mendapatkan 40.000 berarti saya akan mengantongi uang sebesar 800.000.

Kedua, jika nanti saya diperbolehkan bergabung di bagian Account Executive (AE) tentu saja dari ini saya akan mendapatkan uang tambahan walau tidak bisa diprediksi jumlahnya. Kareana persaingan juga ketat. Teman-teman yang sudah bergulat di bidang ini ada sekitar 6 orang. Deni Arifianto, Imam Suryaningrat, Aang M. Junaidi, Firdaus Hasibuan, Susi Trisnawati dan Yuni. Mereka semuanya beroperasi di Banyumas lebih khususnya di Purwokerto.

Ketiga, saya sedikit-sedikit akan mengamplikasikan kemampuan ‘organizing’ dengan mengadakan event kecil (terlebih dahulu). Ini tahap kecil merealisasikan ‘Big Star Production’. Keempat saya juga akan sedikit-seikit mewujudkan mimpi saya mempunyai Biro Perjalanan Wisata, kali ini akan menggunakan nama Junior dan akan menggarap perjalanan ‘kecil’ ke Owabong (Obyek Wisata Air Bojongsari) Purbalingga, yang segmentasinya anak-anak TK/SD.

Mulailah dari hal-hal kecil, begitu artikel yang saya baca dari yang punya Manet. Dan tentu saja “There is always the first time in everything we do.” Begitu kan Mariana Renata.

Sukses untuk saya!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.